Timuraya.in, BOYOLALI — Untuk mengatasi dampak kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober 2026, Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali membangun 73 sumur dalam untuk membantu pengairan sawah.
Kepala Dispertan Boyolali, Suyanta, mengatakan anggaran pembangunan sumur dalam tersebut berasal dari Kementerian Pertanian.
“Masing-masing sumur anggarannya ada Rp110 juta-Rp150 juta,” kata dia kepada wartawan, Kamis (27/8/2026).
Suyanta mengatakan pembangunan 73 sumur dalam tersebut telah berjalan sekitar 60%. Pembangunan di 73 titik itu telah dimulai sejak Juli 2026.
“Beberapa sumur diberikan di Klego, Karanggede, dan sejumlah kecamatan sudah mulai berhasil sumurnya,” kata dia.
Satu sumur dalam diprediksi dapat mengairi sekitar 7 hektare-10 hektare lahan. Dengan adanya sumur tersebut, Suyanta berharap dampak kekeringan terhadap produktivitas pertanian dapat ditekan.
“Akan tetapi karena ada serangan hama penyakit, membuat panen [padi] berkurang sekitar 3%,” kata dia.
Sumur Dalam Didorong Tambah Musim Tanam
Meski menghadapi kekeringan, Suyanta mengatakan produksi padi di Boyolali masih surplus sekitar 7.000 ton. Dengan kondisi tersebut, cadangan pangan berupa padi dinilai masih aman meskipun kekeringan berlangsung hingga Oktober 2026.
“Adanya sumur dalam itu agar sawah yang panennya dulu dua kali, jadi tiga kali. Kalau memperluas sawah tidak mungkin, bisanya menambah perkalian [produksi] tanah,” jelasnya.
Suyanta mengimbau petani menyesuaikan jenis tanaman dengan ketersediaan air. Petani disarankan tidak memaksakan menanam padi apabila pasokan air tidak mencukupi.
Sejumlah kecamatan yang biasanya bisa panen tiga kali karena ketersediaan air melimpah antara lain Simo, Nogosari, Ngemplak, Banyudono, dan Sawit.
“Kami sarankan ketika airnya tidak mencukupi bisa menanam jagung, kacang, dan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air,” kata dia.

Leave a Reply