Tamu Asing Tak Naik, Rupiah Melemah Bikin Hotel di Jateng Kena Pukulan Ganda

Tamu Asing Tak Naik, Rupiah Melemah Bikin Hotel di Jateng Kena Pukulan Ganda
Istimewa/RedDoorz Suasana kamar di salah satu Hotel Sans yang merupakan bagian jejaring RedDoorz, platform multi-brand perhotelan dan akomodasi terkemuka di Asia Tenggara.

Timuraya.in, SEMARANG – Pelemahan nilai tukar rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) tak serta merta meningkatkan kunjungan turis asing ke industri hotel di Jawa Tengah (Jateng) selama kurun waktu dua bulan ini. Justru yang terjadi malah semakin menambah beban operasional hotel akibat kenaikan biaya komponen maupun bahan baku yang masih ketergantungan dengan impor.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Indonesia Hotel General Manager (IHGM) Jateng, M. Soleh, mengaku secara umum pelemahan rupiah tak berdampak terhadap angka menginap turis asing. Bahkan selama dua bulan ini, turis asing yang menginap di hotel tak sampai angka 10%.

“90% lebih penggerak okupansi hotel di Jateng masih wisatawan lokal. Apalagi kalau segmen MICE [Meetings, Intensive, Conferences, dan Exhibition], sangat bergantung dengan anggaran kegiatan pemerintah,” kata Soleh kepada Espos, Jumat (19/6/2026).

Menurut Soleh, pelemahan nilai tukar rupiah justru semakin membebani operasional hotel. Karena selain menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis subsidi, bahan baku dan komponen yang masih ketergantungan impor juga ikut alami kenaikan harga.

“Bahkan plastik kan, kemarin sempat alami kelangkaan hingga harganya melambung. Imbasnya hotel kena pukulan ganda. Satu sisi terjadi penurunan revenue, di sisi lain biaya operasional melonjak,” keluhnya.

Kondisi tersebut dibenarkan Director of Sales & Marketing PO Hotel Semarang, Mohamad Sofyan Amin. Ia mengatakan, pertumbuhan tamu asing tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor nilai tukar, namun juga didukung oleh aktivitas bisnis, perjalanan korporasi, serta berbagai kegiatan dan event yang berlangsung di Kota Semarang.

“Kami melihat pelemahan rupiah untuk pasar tamu asing relatif stabil dengan tamu dari China masih menjadi salah satu kontributor utama yang konsisten. Selain itu kami masih menerima kunjungan dari beberapa negara Asia lainnya yang datang untuk keperluan bisnis maupun leisure,” kata Sofyan.

Sekadar untuk diketahui, catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyatakan turis asing yang datang ke provinsi ini rata-rata membelanjakan Rp2,1 juta. Uang tersebut, mengalir ke berbagai sektor mulai dari transportasi, perhotelan, hingga Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). 

Angka belanja yang dikeluarkan turis asing itu dinilai cukup signifikan untuk membantu menggerakkan perekonomian lokal. Kehadiran mereka, berdampak langsung terhadap perputaran uang di daerah yang dikunjungi.

Kendati demikian, potret BPS Jateng mengungkapkan adanya stigma yang melekat bahwa turis asing asal Eropa cenderung tidak jor-joran saat berlibur. Meski rupiah sedang melemah dan nilai tukar mata uang mereka menguat, kondisi ini tidak mempengaruhi para turis asing.

Leave a Reply