UKSW Bekali Tuna Sosial dan Anak Jalanan dengan Keterampilan Barista

UKSW Bekali Tuna Sosial dan Anak Jalanan dengan Keterampilan Barista
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bersama Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Salib Putih mengadakan program Pelatihan Barista bagi Tuna Sosial dan Anak Jalanan yang digelar pada Kamis (13/8/2026). (Istimewa)

Timuraya.in, SALATIGA-Secangkir kopi bisa menjadi lebih dari sekadar minuman. Bagi 20 peserta dari kelompok tuna sosial dan anak jalanan di Salatiga, keterampilan mengolah kopi kini menjadi bekal baru untuk membuka peluang kerja dan membangun kemandirian ekonomi.

Harapan itu tumbuh melalui program Pelatihan Barista bagi Tuna Sosial dan Anak Jalanan yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bersama Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Salib Putih, Kamis (13/8/2026).

Berlangsung di Kompleks BLK Salib Putih, Argomulyo, Salatiga, pelatihan dirancang tidak berhenti pada pemberian pengetahuan, tetapi memberi kesempatan peserta untuk langsung berlatih menggunakan peralatan kopi yang umum digunakan di industri.

Selama pelatihan, peserta belajar mengenali biji kopi, memahami strategi dan tren bisnis kopi di Indonesia, hingga mempraktikkan teknik penyeduhan menggunakan mesin espresso dan peralatan manual brew. Metode experiential learning diterapkan dengan porsi 70 persen praktik dan 30 persen teori agar peserta memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja.

Mesin espresso semi-otomatis, grinder, V60, hingga Aeropress menjadi bagian dari pengalaman belajar mereka. Bagi peserta, kesempatan mengoperasikan peralatan tersebut secara langsung bukan hanya menambah keterampilan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri untuk memasuki lingkungan kerja baru.

Perwakilan peserta sekaligus Ketua Komunitas, Iwan, mengatakan pendekatan praktik membuat pelatihan terasa lebih bermanfaat.

“Program pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami karena porsi kegiatannya jauh lebih banyak praktiknya. Kami tidak hanya mendengarkan teori, tetapi bisa langsung mencoba mengoperasikan alat-alat kopi standar kafe modern. Ini memberikan pengalaman dan rasa percaya diri baru bagi kami,” ujarnya.

Ketua Tim PkM FKIP UKSW, Tri Nugroho Budi Santoso, S.Pd., M.Pd., yang juga Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi mengatakan keterampilan vokasional menjadi salah satu pintu penting untuk memperluas akses kelompok marginal terhadap dunia kerja.

“Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi teknis peserta melalui pelatihan barista yang komprehensif, mulai dari pemahaman biji kopi hingga teknik penyeduhan standar industri. Kami ingin memutus rantai kemiskinan dan stigma sosial dengan membekali 20 peserta tuna sosial dan anak jalanan agar memiliki kemandirian ekonomi serta daya saing di dunia kerja maupun kewirausahaan,” jelasnya.

Menurutnya, pelatihan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan peserta yang mampu membuat kopi, tetapi juga memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi.

Upaya tersebut diperkuat melalui kolaborasi UKSW dengan BLK Komunitas Salib Putih. Koordinator Pelatihan BLK Komunitas Salib Putih, Arief Sadjiarto, S.E., M.Pd., menilai perpaduan antara keilmuan akademis dan fasilitas pelatihan vokasi dapat menghasilkan program pemberdayaan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bersama Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Salib Putih mengadakan program Pelatihan Barista bagi Tuna Sosial dan Anak Jalanan yang digelar pada Kamis (13/8/2026). (Istimewa)
Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) bersama Balai Latihan Kerja (BLK) Komunitas Salib Putih mengadakan program Pelatihan Barista bagi Tuna Sosial dan Anak Jalanan yang digelar pada Kamis (13/8/2026). (Istimewa)

“Ini merupakan bentuk kerja sama yang sangat baik antara Pendidikan Ekonomi UKSW dan BLK Komunitas Salib Putih. Lewat kolaborasi ini, keilmuan akademis dan fasilitas pelatihan vokasi dapat terintegrasi dengan baik untuk menghasilkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat yang membutuhkan keahlian nyata, salah satunya pada bidang industri kopi,” ungkapnya.

Pelatihan tersebut juga menghadirkan praktisi barista Erlangga Dewa Saputra sebagai instruktur, bersama mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi UKSW Christo Satria Yogatama dan Asnat Alberthina Sailana. Kehadiran praktisi dan mahasiswa memungkinkan peserta memperoleh gambaran mengenai keterampilan teknis sekaligus peluang pengembangan usaha di industri kopi.

Kolaborasi ini ditandai dengan penyerahan Implementation Arrangement (IA) antara UKSW dan Yayasan Sosial Kristen Salib Putih (YSKSP), sebagai bagian dari penguatan kerja sama pemberdayaan masyarakat.

Namun, pelatihan tidak berhenti ketika sertifikat diberikan. Tim PkM UKSW bersama pengelola BLK Komunitas Salib Putih menyiapkan tindak lanjut melalui pembentukan komunitas alumni pelatihan serta pendataan profil dan portofolio kompetensi peserta. Data tersebut selanjutnya akan dikembangkan menjadi basis informasi untuk membuka akses peserta terhadap jejaring dunia kerja, termasuk pemilik coffee shop dan kedai kopi lokal di Salatiga dan sekitarnya. Peserta juga didorong untuk melihat keterampilan barista sebagai modal awal apabila ingin merintis usaha secara mandiri.

Langkah lanjutan ini menjadi bagian penting dari upaya memastikan pelatihan tidak berhenti sebagai pengalaman sesaat. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat berubah menjadi kesempatan nyata, baik untuk bekerja, berwirausaha, maupun membangun kehidupan yang lebih mandiri.

Melalui pengabdian kepada masyarakat, UKSW tidak hanya membawa pengetahuan dari ruang akademik ke masyarakat. Lebih dari itu, kolaborasi ini membuka ruang agar keterampilan, kesempatan, dan kepercayaan diri dapat tumbuh bersama, termasuk bagi mereka yang selama ini menghadapi keterbatasan dalam mengakses dunia kerja.

Program ini sekaligus mencerminkan komitmen UKSW dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs ke-8 yaitu pekerjaan layak dan ppertumbuhan ekonomi, dan SDGs ke-17 yaitu kemitraan untuk mencapai  tujuan. Semangat ini juga selaras dengan Asta Cita, khususnya agenda penguatan pembangunan sumber daya manusia, pendidikan, sains, dan teknologi, serta pembangunan yang berkelanjutan.

Sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terakreditasi Unggul, UKSW telah berdiri sejak tahun 1956 dan memiliki 15 fakultas dengan 65 program studi mulai jenjang Diploma hingga Doktor, serta 36 program studi terakreditasi Unggul dan A. Berlokasi di Salatiga, UKSW dikenal sebagai Kampus Indonesia Mini karena keberagaman mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Melalui semangat Creative Minority, UKSW terus mendorong lahirnya lulusan yang mampu menjadi agen perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi masyarakat. (NA)

Leave a Reply